Description
Di banyak perusahaan, karena pertimbangan efesiensi dan efektivitas lebih memungkinkan dijalankan Leadership Group Coaching (LGC). Seperti misalnya yang kami lakukan baru-baru ini, pada tahun 2024, program LGC dengan insurance agency terbesar di Indonesia. Sesi LGC dilakukan 1 kali setiap bulan, berdurasi 3 jam dan dihadiri oleh 20 orang leaders. Sebelum sesi, setiap peserta mendapatkan pre-coaching materials dalam bentuk video maupun artikel. Masing-masing memberikan jawaban atau komentar mereka melalui G-form, sehingga selama sesi coaching lebih banyak pendalaman dan diskusi menggunakan metode coaching. LGC dilakukan selama 12 bulan atau 12 kali pertemuan. Hasilnya betul-betul transforming.
Kalau melihat pengalaman sebelumnya, pada 2008, saya pernah mendapat kepercayaan memberikan pelatihan khusus topik Coaching for Performance kepada para supervisor dan manajer di Plaza Toyota, PIMDA di Ferron Par Pharmaceuticals (Member of Dexa Group), manajer di Kompas Gramedia Group, dan berlanjut ke perusahaan-perusahaan lain. Sementara untuk topik mentoring, saya memperoleh kesempatan berbagi inspirasi bersama deputy director Bank Indonesia (BI) dan perusahaan lain. Dalam bab ini, kita akan melihat perbedaan antara coaching dan mentoring, supaya dapat menggunakannya pada situasi yang tepat.
Saya meyakini pengaruh coaching terhadap pengembangan kepemimpinan dan peningkatan kinerja. Ibarat olahraga, semua orang meyakini bahwa olahraga sangat baik bagi kesehatan. Namun, sedikit orang yang rutin melakukannya. Demikian juga dengan coaching dan mentoring. Walaupun diyakini sebagai metode terbaik dalam pengembangan kepemimpinan dan pemberdayaan tim, hanya sedikit yang rutin melakukannya. Hal itu disebabkan tiga alasan dasar.
Pertama, masih sedikit pemimpin yang peduli pada pemberdayaan anggota tim. Sementara, baik coaching maupun mentoring membutuhkan waktu. Kita tahu waktu merupakan hadiah paling berharga yang dapat kita berikan kepada siapa pun. Kita dapat menghasilkan lebih banyak uang, tetapi tidak dapat menghasilkan lebih banyak waktu. Ketika kita memberi waktu, kita memberi mereka sebagian dari hidup yang tidak akan kita dapatkan kembali. Karena itu, coaching dan mentoring dimulai dari kebiasaan peduli kepada orang lain.
Kedua, masih sangat sedikit pemimpin yang memiliki pengalaman berharga dibimbing dan dibina coach atau mentor yang baik. Kebanyakan pemimpin bertumbuh alami. Tepat seperti kesimpulan Pete Carroll, “Setiap orang memiliki begitu banyak kekuatan di dalam diri mereka yang perlu dikeluarkan. Terkadang mereka hanya membutuhkan sedikit dorongan, arahan, dukungan, serta coaching, dan hal-hal terbesar bisa terjadi.” Saya berharap para pemimpin lebih berkomitmen melakukannya karena coaching dan mentoring adalah kunci sukses memberdayakan tim dan meraih hasil terbaik.
Ketiga, masih sedikit perusahaan yang berkomitmen membangun budaya coaching dan mentoring. Karena itu, imbauan untuk melakukannya tidak pernah menjadi kebiasaan baru. Seperti sudah dibahas, proses membangun kebiasaan dapat dibagi menjadi empat langkah sederhana: mendapatkan petunjuk, menumbuhkan gairah, menanggapi, dan menikmati hasil. Semua kebiasaan berkembang melalui empat tahap dengan urutan sama. Sementara, empat kaidah perubahan perilaku berupa seperangkat aturan untuk membangun kebiasaan baik buruk: (1) menjadikannya terlihat; (2) menjadikannya menarik; (3) menjadikannya mudah; dan (4) menjadikannya memuaskan.
Pengertian Coaching
The International Coaching Federation (ICF) mendefinisikan coaching: Coaching is partnering with clients in a thought-provoking and creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential. The process of coaching often unlocks previously untapped sources of imagination, productivity and leadership. Artinya, bermitra dengan klien atau coachee dalam pemikiran kreatif yang menginspirasi untuk mengoptimalkan potensi pribadi dan profesional. Proses coaching sering kali membuka sumber imajinasi, produktivitas, dan kepemimpinan yang belum dimanfaatkan.
Coaching sangat efektif karena mengutamakan metode bertanya. Sebuah pertanyaan yang bagus dapat mengubah hidup seseorang. Karena itu, kemampuan mengajukan pertanyaan merupakan perbedaan antara coach pemula dengan coach berpengalaman. Cara coach mengajukan pertanyaan dan pertanyaan yang diajukan dapat mengubah cara coachee memandang diri mereka dan mengubah persepsi tentang realitas. Misalnya, dalam sesi coaching tentang meningkatkan pencapaian target penjualan: “Apa saja yang sudah Anda lakukan untuk meningkatkan target penjualan?” Pertanyaan ini menyadarkan coachee untuk berhenti mencari kambing-hitam atau pembenaran diri dan kembali berjuang dengan upaya terbaik.
Pengertian Mentoring
Peneliti, penulis, dan pembicara dalam bidang coaching dan mentoring, Dr. Suzanne Doyle-Morris, menjelaskan bahwa mentoring adalah membantu mengembangkan keterampilan orang lain di bidang yang sama. Sementara, Valorie Burton mendefinisikan mentoring sebagai menasihati seseorang (mentee) berdasarkan pengalaman yang dimiliki mentor. Lead coach, Matt Lavars, mengatakan mentoring adalah memberi tahu seseorang tentang apa yang harus dilakukan, sedangkan coaching adalah menciptakan ruang yang memungkinkan coachee menemukan jawaban atau solusi mereka.
Ketika saya ingin mempelajari keterampilan berbicara di depan umum, saya membutuhkan mentor berpengalaman dan terbukti meraih hasil yang saya impikan di bidang tersebut. Dengan demikian, mereka dapat melatih saya dengan berkata, “Lakukan ini, jangan lakukan itu!” Itulah mentoring, yaitu memperoleh saran agar memiliki hasil persis seperti yang Anda inginkan.
Hal ini sejalan dengan perkataan ahli fisika dan astronomi hebat, Sir Isaac Newton: “I have seen further than others it is by standing upon the shoulders of giants.” Kita dapat menjadi hebat ketika belajar kebijaksanaan dan pengetahuan dari mereka yang telah datang sebelum kita. Bagi kita yang hidup hari ini, terutama generasi Milenial/Y dan Z, Anda mewarisi berbagai jenis pengetahuan dan kebijaksanaan dari generasi sebelumnya. Sangat tidak bijaksana jika mengabaikan kebijaksanaan dan pengetahuan yang telah diwariskan kepada kita.
Kekuatan coaching adalah membangunkan kesadaran coachee dengan metode bertanya. Kekuatan mentoring adalah memberi nasihat dan arahan. Karena itu, seorang mentor harus lebih berpengalaman dan bijaksana dibanding mentee. Hal ini karena ia harus berbagi pengetahuan, keterampilan, dan/atau pengalamannya untuk membantu orang lain berkembang dan bertumbuh. Seorang mentor memiliki pengalaman nyata dalam bidang tertentu yang belum dimiliki mentee. Mentor dapat memberi tahu mentee, “Sesuai pengalaman dan pemahaman saya, dalam situasi seperti ini, Anda dapat melakukan ini dan tidak boleh melakukan itu.”
Sementara, seorang coach tidak harus lebih berpengalaman atau lebih senior dibandingkan coachee. Syarat utama coach adalah memahami teknik melakukannya. Seorang coach berperan membangunkan kesadaran coachee tentang akar masalah yang sedang dihadapi beserta solusi terbaiknya. Misalnya, membangun kesadaran coachee apakah layak mengejar impiannya, bagaimana strategi meraihnya hingga cara membuat rencana tindakan dan melakukannya. Metode coaching dapat membangun komitmen coachee melakukan rencana kerja karena ia sendiri yang menetapkannya. Berikut perbedaan coaching dengan mentoring.